jump to navigation

Arti Loyalitas menurut Karyawan dan Perusahaan December 1, 2009

Posted by Ali in Karir dan Pekerjaan.
Tags: , ,
3 comments

Loyalitas Karyawan

Loyalitas Karyawan

Perbedaan pengertian istilah loyalitas antara karyawan dan perusahaan rasanya selalu menjadi topik yang diperdebatkan. Karena itu, tulisan ini mencoba kembali mencermati mengapa perdebatan tentang hal ini tidak pernah menemukan titik tengah.

Loyalitas berasal dari kata dasar “loyal” yang berarti setia atau patuh, loyalitas berarti mengikuti dengan patuh dan setia terhadap seseorang atau system/peraturan. Istilah loyalitas ini sering didefinisikan bahwa seseorang akan disebut loyal atau memiliki loyalitas yang tinggi jika mau mengikuti apa yang diperintahkan.
Perusahaan atau pengusaha mengartikan loyalitas adalah suatu kesetiaan karyawannya kepada perusahaannya.
Dalam perkembangannya, arti kata loyalitas sering dimanfaatkan oleh perusahaan untuk memanfaatkan karyawan semaksimal mungkin tanpa memperhatikan kebutuhan karyawannya. Perusahaan atau pengusaha melakukannya karena meyakini bahwa karyawan tidak memiliki posisi tawar yang seimbang. Dalam hal ini, perusahaan atau pengusaha tadi menganggap hubungannya dengan karyawan tidak sebagai partner, tetapi sebagai majikan dan pegawai, yang memberi upah dan yang meminta upah. Sebuah paradigma yang masih tersisa dari era perbudakan.

Perusahaan pun akan dengan mudah memberi label “tidak loyal” kepada karyawannya jika karyawannya tersebut tidak mengikuti apa yang diperintahkan oleh perusahaan, misalnya tidak mau kerja lembur atau tidak mengikuti suatu kegiatan yang diminta oleh perusahaan meski pekerjaan/kegiatan tersebut diluar jam kerja.

Kadang, arti kata ”perusahaan”-pun sering diganti maknanya, dengan ”pengambil keputusan” perusahaan yang sejatinya adalah seorang karyawan di perusahaan tersebut. Karyawan yang kebetulan menjadi penentu kebijakan perusahaan ini seringkali memanfaatkan posisinya untuk kepentingan lain (baca:diri sendiri) sehingga banyaknya kepentingan dalam menentukan kata”loyal atau tidak loyal” sangat besar pengaruhnya. Dalam pengamatan saya, para pemangku kebijakan perusahaan ini adalah karyawan pada level manajerial, Supervisor/Manager di bagiannya, atau seorang HRD Manager misalnya.

Pada perkembangannya pengertian semakin bergeser menjadi “kepatuhan bawahan terhadap apapun yang diperintahkan atasan”. Dan ini seringkali menjebak bawahan untuk berubah menjadi seorang karyawan yang YES-man, Asal Boss Senang, dalam kata-kata yang lebih tegas bisa disebut penjilat. Akhirnya tercipatalah pengertian baru dari kata loyalitas, yaitu menjilat. Seorang akan disebut memiliki loyalitas yang tinggi jika bisa menyenangkan atasannya dengan cara menjilat, cari muka.

Sekarang, mari kita lihat apa pengertian loyalitas menurut karyawan.
Loyalitas menurut karyawan atau para professional adalah kesetiaan pada pekerjaan atau profesi. Sementara perusahaan hanya dipandang sebagai tempat bekerja, dan kewajiban karyawan hanyalah bekerja dan mengikuti peraturan yang berlaku di perusahaan tersebut, dan tentu saja harus mendapatkan hak-nya sesuai kesepakatan.

Jika ada kewajiban lain yang harus dilakukan dan diluar kesepakatan, maka harus ada kompensasi atau benefit tambahan, misalnya jika harus bekerja lembur maka harus mendapatkan upah tambahan. Dari sudut pandang ini, karyawan berharap mereka dianggap sebagai partner oleh perusahaan dan bersama dengan stake holder/pemilik kepentingan lainnya (customer, supplier, pemegang saham, lingkungan dan masyarakat sekitar) dianggap sama dan penting.

Karyawan hanya akan loyal terhadap perusahaan tempatnya bekerja jika menemukan kenyamanan dan rasa aman. Dia merasa nyaman dengan lingkungannya, dengan sikap atasan atau rekan kerjanya, merasa aman dengan masa depannya, karir dan pekerjaannya. Rasa nyaman ini dengan sendirinya akan menumbuhkan kedekatan, kebahagiaan dan rasa memiliki. Sementara bekerja dan memiliki pekerjaan adalah salah satu cara untuk mendapatkan rasa aman. Jika kedua hal tersebut ada, maka dengan sendirinya loyalitas karyawan akan meningkat.

Kedua pemahaman arti kata loyalitas tersebut tentu saja berbeda dan bersebrangan. Perusahaan, termasuk juga karyawan pengambil kebijakan perusahaan yang (merasa) mewakili perusahaan, memahami loyalitas adalah kepatuhan pada perusahaan (atasan, peraturan) tanpa syarat. Sementara karyawan memahami arti kata loyalitas sebagai kesetiaan terhadap profesi dan pekerjaan, bukan pada atasan atau perusahaan.

Kemudian, pemahaman yang manakah yang benar? Manakah yang lebih sesuai untuk era baru ini? Semuanya dikembalikan pada pribadi masing-masing, dan saya lebih memilih loyalitas pada pekerjaan pada profesi bukan pada atasan atau perusahaan.

Hukum Girard 250 dan Pentingnya Networking November 30, 2009

Posted by Ali in Personal Branding.
Tags: , ,
3 comments

Membaca artikel “Selling is Commercialization” yang ditulis oleh Hermawan Kartajaya membuat saya tersadar akan pentingnya memiliki networking. Artikel New Wave Marketing yang di muat di Kompas.com tersebut mengupas tentang seorang Joe Girard. Siapakah Joe Girard?

Joe Girard

Joe Girard

Pria luar biasa ini adalah salesman terhebat yang pernah tercatat di Guinness Book of Record karena prestasi penjualannya selama beliau bekerja sebagai salesman mobil. Selama menjadi salesman mobil Chevrolet di kota Detroit, Amerika, dia berhasil menjual lebih dari 13 ribu unit mobil baru selama kurun waktu 15 tahun dari tahun 1963 sampai tahun 1978. Atau jika dihitung, maka penjualan rata-rata per harinya mencapai 6 unit/hari, sementara salesman lain rata-rata hanya 3 unit per bulan. Pencapaian luar biasa ini membuatnya dianugerahi The World’s Greatest Salesman dan juga menjadi satu-satunya salesman yang tercatat pada The Automotive Hall of Fame.

Sampai sekarang prestasi itu belum ada yang memecahkannya. Joe Girard juga mencatatkan record lainnya : menjual 18 unit dalam satu hari, pernah juga menjual 174 unit dalam satu bulan, bahkan pernah berhasil mencatat penjualan 1,425 unit mobil dalam satu tahun. Hebatnya lagi, semua penjualan tersebut tidak ada yang dalam bentuk fleet atau jenis trucks, semuanya murni penjualan ke perorangan dan mobil pribadi.

Ternyata salah satu kunci sukses dari prestasi luar biasa Joe Girard adalah networking. Bukan sekedar network, jejaring pertemanan dan pergaulan, tetapi network yang efektif. Bagi seorang salesman, networking adalah asset yang paling berharga. Karena dengan memiliki network yang luas dan efektif, maka mereka (teman, saudara, keluarga, tetangga, dan lainnya) bisa menjadi salah satu prospect bahkan pembeli dari produk yang kita jual.

Network atau orang-orang yang kita kenal dalam jejaring pertemanan dan pergaulan tersebut bisa disebut sebagai asset. Menurut Joe Girard, setidaknya setiap orang memiliki rata-rata 250 asset atau 250 orang dan inilah yang kemudian disebut “Hukum Girard 250“. 250 asset pertama disebut ring 1, kemudian 250 orang lain yang dikenal melalui orang-orang di ring 1 disebut ring 2, dan begitu seterusnya.

Tertarik dengan teori Girard tersebut, saya coba menginvetarisir asset-asset yang saya miliki. Saya data ulang semua orang yang saya kenal baik : orang tua, saudara kandung dan keluarga lainnya, teman sekolah, rekan satu kantor, tetangga, dan kolega lainnya. Ternyata setelah saya data ulang, terdapat lebih dari 500 orang. Sebuah jumlah yang luar biasa. Belum lagi jika ditambahkan dengan keluarga dan teman dari 500 orang tersebut. Tentu jumlahnya akan semakin berlipat.

Hal ini menyadarkan saya, bahwa memang networking sangat penting. Dengan memiliki jejaring pertemanan atau pergaulan yang luas, maka peluang kita untuk bisa menjual sesuatu akan semakin besar. Dengan hanya berkunjung, kirim SMS, atau menelepon, kita dapat menawarkan produk atau jasa apapun kepada mereka, sekaligus tentu saja mempererat silaturahmi.

Dan rupanya dengan kemajuan teknologi yang tersedia saat ini, maka networking kita bisa semakin luas. Kita bisa menggunakan media internet, e mail, twitter, atau facebook untuk mempererat silaturahmi sekaligus mendapatkan kenalan baru, yang berarti menambah daftar prospect kita.

Tetapi tentu saja, ada hal lain yang harus kita lakukan, tidak hanya sekedar memperluas networking. Kita harus membina hubungan baik dengan semua orang, menjaga kepercayaan mereka, menjadi teman dan sahabat untuk asset-asset kita. Sedapat mungkin kita bisa memberikan solusi dari permasalahan mereka, bukannya justru menciptakan masalah. Ini penting, agar tercipta kesan bahwa kita adalah penting dan bermanfaat untuk mereka.
Jika sudah memiliki kesan yang baik, maka mudah bagi kita untuk menjual apapun kepada orang-orang di ring 1, tentu saja jika produk atau jasanya sesuai dengan kebutuhan mereka. Dan biasanya dengan senang hati, orang-orang di ring 1 akan memberikan rekomendasi kepada kita untuk dapat mengenal dan menjual produk kita kepada orang-orang di ring 2. Begitu seterusnya.

Mungkin inilah yang disebut “personal branding”.

Foto diperoleh dari www.JoeGirard.com

Renungan Jalur Kereta Api September 1, 2009

Posted by Ali in Tentang Kehidupan.
Tags: , ,
1 comment so far

Sekelompok anak kecil sedang bermain di dekat dua jalur kereta api (KA)
Jalur pertama adalah jalur aktif yang masih sering dilewati KA
Sementara jalur kedua sudah tidak aktif alias tidak pernah dilewati KA

Hanya seorang anak yang bermain di jalur yang tidak aktif

Sementara anak-anak lainya bermain di jalur KA yang masih aktif

Jalur Kereta Api

Jalur Kereta Api

Tiba-tiba, terlihat ada kereta api yang mendekat dengan kecepatan tinggi

Dan kebetulan Anda berada di depan panel persimpangan yang mengatur arah KA tersebut

Apakah Anda akan memindahkan arah KA tersebut ke jalur yang tidak aktif dan menyelamatkan sebagian besar anak kecil yang sedang bermain?

Hal ini berarti Anda mengorbankan seorang anak yang sedang bermain di jalur KA yang tidak aktif.

ATAU……
Anda akan membiarkan kereta tersebut berada dijalur yang seharusnya?

Ufffhhh…..

Mari berhenti sejenak untuk memikirkan KEPUTUSAN APA YANG SEBAIKNYA KITA AMBIL?

Pikirkan baik-baik apa jawaban Anda………..,

Dan setelah yakin dengan jawaban Anda, teruskan membaca ke bawah………

Sebagian besar orang akan memilih untuk memindahkan arah kereta dan hanya mengorbankan jiwa seorang anak

Anda mungkin memiliki pilihan yang sama karena menyelamatkan sebagian besar anak dan hanya kehilangan seorang anak adalah sebuah keputusan yang rasional dan dapat disahkan baik secara moral maupun emosional.
Namun sadarkah Anda bahwa anak yang memilih untuk bermain dijalur KA yang sudah tidak aktif, berada di pihak yang benar karena telah memilih untuk bermain di tempat yang aman?

Disamping itu dia harus dikorbankan justru karena kecerobohan teman-temannya yang bermain ditempat yang berbahaya.

Dilema semacam ini terjadi disekitar kita setiap hari. Di masyarakat, di dunia politik, di kehidupan demokrasi, dan terutama di kantor, pihak minoritas harus dikorbankan demi kepentingan mayoritas.

Tidak peduli betapa bodoh dan cerobohnya pihak mayoritas tersebut.

Nyawa seorang anak yang memilih untuk tidak bermain bersama teman-temannya dijalur KA yang berbahaya telah dikesampingkan.

Dan bahkan kita mungkin tidak akan menyesalkan kejadian tersebut.

Seorang teman yang telah mendengar cerita ini berpendapat bahwa dia tidak akan mengubah arah laju kereta
Karena dia percaya anak-anak yang bermain di jalur KA yang masih aktif sangat sadar bahwa jalur tersebut masih aktif.
Maka mereka akan segera lari ketika mendengar suara kereta mendekat.

Jika arah laju kereta diubah ke jalur yang tidak aktif……..

Maka seorang anak yang sedang bermain di jalur tersebut pasti akan tewas, karena dia tidak pernah berpikir bahwa kereta akan menuju jalur tersebut.

Disamping itu alasan sebuah jalur KA dinonaktifkan kemungkinan karena jalur tersebut sudah tidak aman.
Bila arah laju kereta diubah ke jalur yang tidak aktif, maka kita telah membahayakan nyawa seluruh penumpang di dalam kereta.

Dan mungkin langkah yang telah ditempuh untuk menyelamatkan sekumpulan anak dengan mengorbankan seorang anak bisa mengorbankan lagi ratusan nyawa penumpang di kereta tersebut.

Kita harus sadar bahwa hidup ini penuh dengan keputusan sulit yang harus dibuat.
Dan mungkin kita tidak akan menyadari bahwa sebuah keputusan yang cepat tidak selalu menjadi keputusan yang benar.

Satu lagi perlu diingat……dalam masyarakat kita sekarang ini: sesuatu yang benar tidak selalu disukai, dan sesuatu yang disukai tidak selalu benar

Artikel ini saya tulis ulang dari email seorang sahabat yang dimuat juga di Situsnya Andri Wongso dan saya dedikasikan untuk sahabat-sahabat terbaik saya yang selalu konsisten untuk berada di “jalur kereta tidak aktif” JALUR YANG BENAR……..

Penjualan mobil bekas terus meningkat May 1, 2009

Posted by Ali in Berita Otomotif.
Tags: , ,
1 comment so far

Penjualan mobil di Indonesia pada tahun 2008 mencapai 607.770 unit, data tersebut adalah data wholesales atau data unit mobil baru yang dikirim ke showroom. Lalu bagaimana dengan penjualan mobil bekas pakai? Memang tidak ada angka pasti mengenai hal ini.

Showroom Mobil Bekas/Second

Showroom Mobil Bekas/Second

Tetapi jika melihat dari begitu menjamurnya showroom mobil bekas di Indonesia, maka sudah dipastikan bahwa pasar mobil bekas memang pasar yang menggiurkan.

Sebagai contoh saja, di wilayah Depok, kota satelit di selatan Jakarta, tidak kurang ada 50 showroom yang menjual mobil bekas. Jika satu showroom rata-rata perbulan dapat menjual 5 unit, berarti tidak kurang dari 250 unit mobil bekas diperjual belikan di kota Depok.
Dihitung dalam setahun, berarti hampir 3.000 unit mobil bekas diperjualbelikan. Padahal jika menurut data registrasi dari SAMSAT, pendaftaran mobil baru di wilayah Depok tahun 2008 hanya sekitar 10.000 unit.

Ada beberapa hal yang mendorong penjualan mobil bekas di Indonesia terus meningkat.

1. Harga mobil baru yang semakin tinggi

Salah satu factor yang menentukan harga jual kendaraan adalah nilai tukar rupiah terhadap US Dollar atau Yen Jepang. Jika nilai tukar rupiah melemah, maka produsen mobil di Indonesia terpaksa menaikkan harga jual kendaraannya. Hal ini membuat harga mobil baru terus meningkat. Sehingga calon pembeli yang kemampuan daya belinya tidak terlalu kuat, terpaksa membeli mobil bekas untuk memenuhi kebutuhannya.

2. Menghindari Depresiasi

Salah satu karakter unik orang Indonesia yang mempengaruhi keputusannya dalam membeli mobil adalah “Berapa nilai jual kembali mobil saya jika saya nanti ingin menjualnya?”
Sehingga banyak orang Indonesia yang lebih cenderung membeli mobil bekas agar tidak mengalami kerugian depresiasi dilai jual.
Begitu mobil Anda keluar dari showroom, harganya akan langsung mengalami depresiasi.
Rata-rata sebuah kendaraan akan kehilangan maksimal 30% dari harga belinya dalam jangka waktu 2 tahun sejak pertama kali dijual ke pembeli.
Tentu saja ada hal lain yang mempengaruhi harga jual kebali sebuah mobil. Diantaranya : merk mobil tersebut, kondisi mobil, penggunaan dan perawatan, serta keadaan pasar juga ikut menentukan besar kecilnya depresiasi mobil baru Anda.

3. Tidak ingin menunggu mobil baru yang terlalu lama

Pada beberapa tipe mobil yang laris di pasaran, masa tunggu kendaraan keluar dari showroom kadang terlalu lama. Sehingga banyak calon pembeli yang tidak sabar menunggu masa indent tersebut, akhirnya lebih memilih mencari alternative lain dengan membeli mobil bekas yang bisa langsung dipakai. Hal ini berlaku ketika kapasitas produksi atau kuota impor suatu model tidak lagi sesuai dengan banyaknya permintaan pasar. Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, Nissan Grand Livina, Honda Jazz, adalah beberapa model yang pernah menikmati fenomena ini.

Mau tahu lebih lengkap tentag perkembangan dunia otomotif di Indonesia? Dapatkan dari Best Indonesia Cars Guide

Penjualan mobil pada tahun 2009 April 12, 2009

Posted by Ali in Berita Otomotif.
Tags: , ,
add a comment

Penjualan mobil di Indonesia pada tahun 2008 mencapai 607.770 units, meningkat 40% dari penjualan tahun 2007 yang sebesar 434.313 unit.

Angka ini jauh melampaui target yang diperkirakan oleh GAIKINDO (Gabungan Industri Kendaraan Indonesia) bahwa penjualan mobil di Indonesia pada tahun 2008 akan mencapai angka 520.000 unit.

Berdasarkan data yang dirilis oleh GAIKINDO bahwa penjualan mobil tahun 2008 setiap bulannya memang cenderung meningkat.

Penjualan bulan Januari 41.375 unit, Pebruari 47.466 unit, Maret 46.714 unit, April 51.655 unit, Mei 50.718 unit, Juni 54.707 unit, Juli 60.830 unit, Agustus 58.491 unit, September 55.231 unit, Oktober 54.813 unit.

Grafik Penjualan Mobil tahun 2008 vs 2007

Grafik Penjualan Mobil tahun 2008 vs 2007

Hanya pada 2 bulan terakhir penjualan mobil di Indonesia cenderung menurun, bulan Nopember 46.119 unit dan Desember 39.651 unit. Krisis ekonomi global yang melanda Amerika Serikat dan Eropa, akhirnya mengakibatkan penjualan mobil di Indonesia juga terkena dampaknya.

Sejak bulan Nopember 2008, suku bunga Bank Indonesia naik dari 8.75% menjadi 9.5%. Hal ini mengakibatkan penjualan mobil menjadi turun, karena lembaga pembiayaan kendaraan menaikkan suku bunga kreditnya dan membatasi pemberian fasilitas kredit kepada konsumen, padahal 80% pembelian kendaraan di Indonesia dibiayai dengan cara kredit oleh lembaga pembiayaan kendaraan.

Selain itu nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika naik dari Rp.9.500 menjadi Rp.12.000 per 1 US Dollar. Sehingga banyak produsen mobil yang terpaksa menaikkan harga jual kendaraan bahkan sampai 20% dari harga semula.

Penjualan mobil di Indonesia pada tahun 2008 masih didominasi oleh merk Jepang. Toyota masih memimpin pasar otomotif Indonesia dengan penjualan sebanyak 211.909 unit dengan pangsa pasar 35%. Mitsubisi di peringkat kedua dengan jumlah penjualan 87.524 unit, pangsa pasar 14,4%. Disusul berturut-turut oleh Daihatsu 78.041 unit (13%), Suzuki 73.066 units (12%), Honda 52.500 units (8.6%), Nissan 31.881 unit (5.2%), Isuzu 25.325 unit (4.2%), Hino 14.227 unit (2.3%). Dan merk-merk lainnya dengan penjualan sebanyak 33.297 unit (5.5%) dibagi oleh sekitar 20 merk mobil.

Hampir setiap merk mengalami kenaikan penjualan yang cukup tajam dibandingkan penjualan tahun 2007. Seperti Toyota yang menikmati kenaikan sampai 41% dari penjualan tahun 2007 yang hanya sejumlah 150.631 unit. Bahkan penjualan Daihatsu mengalami kenaikan sampai 50% dari 51.597 units di tahun 2007, sehingga mampu menggeser Suzuki dari peringkat 3 besar otomotif Indonesia.

Bagaimana penjualan mobil di tahun 2009?

Penjualan mobil di tahun 2009 diperkirakan akan mengalami penurunan sampai 30%. Bahkan GAIKINDO memperkirakan penjualan mobil nasional hanya mencapai angka 430,000 unit. Hal ini dikarenakan dampak krisis ekonomi global yang masih belum pulih, suku bunga yang belum turun secara signifikan dan nilai tukar rupiah yang masih fluktuatif.

Apalagi pada tahun 2009, Indonesia akan mengadakan pesta demokrasi lima tahun sekali, yaitu pemilu legislatif dan pemilihan presiden.

Kita lihat apakah penjualan mobil pada tahun 2009 akan bisa bertahan menghadapi kondisi politik dan ekonomi yang seperti demikian. Semoga.

Tahun 2009, harga mobil terus melangit April 1, 2009

Posted by Ali in Berita Otomotif.
Tags: , ,
add a comment

Krisis ekonomi yang melanda Amerika, kemudian Eropa, telah membuat penjualan mobil nasional terus menurun. Daya beli ekonomi masyarakat sudah semakin berkurang. Banyak sektor perdagangan dan industri yang harus tutup. Dan tentu saja ini membuat produsen mobil harus semakin pintar menerapkan stategi untuk bisa bertahan dari terjangan krisis ini.

Turunnya nilai tukar rupiah terhadap US Dollar, Yen Jepang, membuat produsen mobil terpaksa menaikkan harga jual kendaraan. September 2008, Rupiah masih berada di angka Rp.9.500/1 US Dollar. Dan pada bulan Oktober 2008 naik menjadi sekitar Rp.12.000/1 US Dollar.

Akibatnya, harga mobil baru terus naik hampir setiap bulan. Jika melihat harga bulan Maret 2009 dibandingkan dengan harga Oktober 2008, maka hampir semua merk menaikkan harga jualnya 10% sampai 15%. Bahkan ada beberapa model yang terpaksa dinaikkan sampai 18% dari harga Oktober 2008.

Toyota Avanza | Mobil terlaris di Indonesia

Toyota Avanza | Mobil terlaris di Indonesia

Varian paling ekonomis dari Toyota Avanza misalnya, tipe G 1.3L Manual, harga per Oktober 2008 adalah Rp. 116.800.000. Dan berapa harga bulan Maret 2009? Rp. 129.600.000. Naik hampir 13 juta atau 11%.

Total kenaikkan harga dari Oktober 2008 sampai Maret 2009 untuk semua tipe Toyota Kijang Innova mencapai 27 juta atau rata-rata 13%.

Nissan Grand Livina tipe XV 1.5 MT naik 21 juta rupiah dari Rp. 158 juta per Oktober 2008 menjadi Rp. 179 juta per Maret 2009.

Bahkan All New City, Small Sedan andalan Honda yang baru launching tanggal 28 Nopember 2008, terpaksa harus naik 10 juta untuk tipe Manual dan 12 juta rupiah untuk tipe Otomatis, sehingga kisaran harganya menjadi 249 juta sampai 272 juta rupiah.

Sementara Suzuki, tidak kuasa menahan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Yen Jepang, sehingga Suzuki Neo Baleno harus naik Rp. 30 juta menjadi Rp. 206 juta (MT) dan Rp. 217 juta (AT). Dan Suzuki Swift dari kisaran harga Rp. 137 juta ~ Rp. 160 juta naik menjadi Rp. 163,5 juta ~ Rp. 186,5 juta.

Demikian juga dengan Hyundai, produsen mobil asal Korea Selatan, harus menaikkan harga Hyundai Avega, Sedan 1.500 cc andalannya. Sedan lift back yang pada bulan Oktober 2008 masih dijual dengan harga Rp. 102,75 juta ~ Rp. 132 juta, kini naik menjadi Rp. 118 juta ~ Rp. 147,85 juta.
Triwulan pertama tahun 2009, nilai tukar rupiah masih belum stabil. Pada saat tulisan ini dibuat, rupiah masih diperdagangkan pada level Rp. 11.500 per 1 US Dollar. Tentu saja ini membuat harga mobil baru ada kemungkinan akan naik lagi.

Ingin tahu lebih jauh tentang harga mobil di Indonesia? Pergi saja ke situs favorite saya yang ini : Best Indonesia Cars Guide

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.